SMA Warga Surakarta turut ambil bagian dalam kegiatan Workshop Deep Learning yang diselenggarakan di SMA Negeri 1 Ngemplak Boyolali, 19 Juni 2025. Dalam kegiatan ini, Drs. Purwoto, M.Pd., guru SMA Warga Surakarta, didapuk menjadi narasumber utama bersama Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah V Jawa Tengah. Workshop ini dihadiri oleh para pendidik SMA Negeri 1 Ngemplak Boyolali yang antusias mengikuti pemaparan materi.

Dalam pemaparannya, Drs. Purwoto, M.Pd. menekankan pentingnya perubahan paradigma di kalangan pendidik dalam menyikapi dinamika dan perkembangan dunia pendidikan yang kian cepat. Ia mengingatkan bahwa Deep Learning bukanlah sebuah kurikulum baru, melainkan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, bermakna, dan aplikatif bagi peserta didik.

Beberapa hal pokok yang disampaikan dalam sesi tersebut meliputi:

  1. Urgensi Perubahan Paradigma Pendidik
    Guru diharapkan tidak lagi terjebak pada pola lama yang berorientasi hafalan, tetapi harus mengembangkan pola pikir baru yang mendorong kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif di kalangan siswa.

  2. Deep Learning sebagai Pendekatan, Bukan Kurikulum
    Ditekankan bahwa deep learning bukan sekadar program atau mata pelajaran tambahan, tetapi merupakan cara pandang dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajaran.

  3. Karakteristik Deep Learning dalam Pendidikan
    Ciri khas pendekatan ini antara lain: keterlibatan aktif siswa, pemecahan masalah nyata, kolaborasi, refleksi diri, serta transfer pengetahuan ke berbagai konteks kehidupan.

  4. Implementasi Deep Learning di Sekolah
    Guru harus mendesain pembelajaran yang menantang siswa untuk mengeksplorasi, menemukan, dan menciptakan solusi atas persoalan-persoalan kontekstual, baik melalui PBL (Project-Based Learning), IBL (Inquiry-Based Learning), maupun model-model pembelajaran inovatif lainnya.

  5. Manfaat Deep Learning
    Pendekatan ini diyakini dapat mengembangkan kompetensi abad 21 siswa, seperti literasi informasi, kecakapan berpikir tingkat tinggi (HOTS), kemampuan berinovasi, dan keterampilan sosial.

  6. Tantangan Implementasi Deep Learning
    Di sisi lain, implementasi deep learning menuntut perubahan pola pikir guru, dukungan sarana prasarana, serta kesiapan manajemen sekolah untuk memberikan ruang kreatif dan fleksibel bagi guru dan siswa.

Melalui workshop ini, diharapkan para guru di SMA Negeri 1 Ngemplak Boyolali makin terinspirasi untuk menerapkan deep learning secara lebih optimal dalam pembelajaran di kelas. Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata kolaborasi antarsekolah dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di wilayah Jawa Tengah.